Kinerja Positif, Golden Eagle Genjot Produksi Batu Bara

Date: 
24 August 2021
Image: 

JAKARTA, investor.id - PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) menargetkan volume produksi dan penjualan tahun ini sebanyak 2 juta ton. Target tersebut sejalan dengan kondisi pasar batu bara yang mulai pulih dibandingkan tahun 2020.

Sementara itu, pada semester I-2021, perseroan mencatatkan kinerja positif. Penjualan mencapai Rp 181 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sama tahun lalu. Perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp 46 miliar dibandingkan sebelumnya yang mencatatkan kerugian.

Adapun volume penjualan perseroan hingga Juni sudah melebihi 750 ribu ton, naik lebih dari 30% dibandingkan tahun lalu. Direktur Utama Golden Eagle Energy Roza Permana Putra mengatakan, permintaan batu bara secara global mulai pulih pada 2021, dimana Tiongkok menjadi kontributor terbesar dengan tingginya permintaan dari pembangkit listrik dan pasokan domestik yang ketat.

Kembali pulihnya permintaan batu bara tersebut seiring dengan pemulihan ekonomi yang didukung oleh ketersediaan vaksin Covid-19. Hal ini juga membuat permintaan dari India dan negara-negara Asia Tenggara mulai meningkat.

“Perseroan tentunya sangat optimis melihat tahun 2021. Kami pun berencana ingin mencapai volume produksi dan penjualan batu bara mendekati 2 juta ton,” kata Roza dalam paparan publik, Selasa (24/8).

Dia menegaskan, perseroan melihat bahwa prospek industri batu bara ke depannya masih menjanjikan karena batu bara merupakan sumber energi yang paling murah dan termudah.

Sementara itu, mengenai target pendapatan dan laba tahun ini, Corporate Secretary Golden Eagle Energy Chrismasari Dewi Sudono menyampaikan bahwa itu sangat tergantung dari harga batu bara yang belakangan ini semakin meningkat, dan untuk mencapai laba bersih ada banyak faktor yang mempengaruhi.

“Hingga sampai saat ini perseroan optimis bahwa pencapaian kinerja pada akhir tahun ini diharapkan bisa lebih baik dibandingkan dengan kinerja pada semester I,” tuturnya.

Tahun ini, perseroan belum terlalu banyak meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) seiring dengan kondisi pandemi Covid-19 yang belum menentu. Dalam anggaran belanja modal saat ini, perseroan baru merealisasikan sekitar 25% dari anggaran tahun ini, yakni tidak lebih dari Rp 20 miliar.

Perseroan akan fokus pada strategi efisiensi peningkatan produksi, sehingga dapat menjadikan perusahaan tetap bertahan dalam kondisi pandemi. Selain itu, perseroan tetap menjaga kapasitas produksi agar dapat mencapai economic of scale di tengah momentum kenaikan harga, serta perencanaan tambang yang optimum untuk mendapatkan SR yang ditargetkan.

Sebagai informasi, perseroan sedang membuka pasar ke Vietnam, Thailand, dan Laos. Perseroan masih tetap fokus di Asia Tenggara sebagai tujuan ekspor. Perseroan juga tetap membidik pasar pembangkit tenaga listrik.

Di sisi lain, banyak pabrik semen kini menggunakan batu bara perseroan. Hal ini menjadi suatu kesempatan yang baik bagi perseroan untuk terus membuka pasar-pasar batu bara.